SEKILAS INFO
: - Sabtu, 13-08-2022
  • 3 tahun yang lalu / OPEN RECRUITMEN “ALFAMART” di SMKN 2 BLITAR (KHUSUS ALUMNI dan UMUM) untuk info lebih lanjut silahkan buka menu Pengumuman
Pembelajaran Era Digital

Pembelajaran Era Digital

Penulis: Bayu Prisa Setia Adi

Menjadi Guru Pariwisata Pada tahun 2009 mengampu Mata Pelajaran Komunikasi Industri Pariwisata dan Pemanduan Wisata, dipercaya sebagai Ketua Program Keahlian Usaha Layanan Wisata sampai dengan sekarang.

 

Latar Belakang

Dewasa ini perkembangan teknologi semakin pesat. Teknologi merupakan hal penting dalam kehidupan karena berfungsi mempermudah pekerjaan manusia. Saat ini masyarakat dan produk-produk teknologi informasi merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Fenomena yang ada, menunjukkan bahwa masyarakat sangat bergantung kepada produk-produk teknologi informasi. Sebagai konsekuensinya banyak kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat ditopang oleh produk-produk teknologi informasi. Perkembangan teknologi informasi membawa masyarakat menuju era digital seperti saat ini. Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi yang semakin cepat dewasa ini secara langsung maupun tidak langsung memberikan pengaruh yang signifikan terhadap dunia pembelajaran, baik pada siswa  maupun pada guru.

Keberhasilan pendidikan siswa tidak lepas dari kemampuan guru dalam mentransfer ilmu pengetahuan. Perkembangan teknologi dan pesatnya era digital menuntut kompetensi guru selalu update menjawab tantangan perkembangan teknologi. Hal itu sesuai dengan amanat UU 14/2005 tentang Guru dan Dosen. Bahwa profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.

Kenyataan masih memprihatinkan yang terjadi pada dunia pendidikan kita adalah kemajuan zaman tidak berbanding lurus dengan kemajuan guru. Kita pun masih menyaksikan realitas yang kontras antara guru dan siswa. Siswa sudah sedemikian maju dalam iklim digital, sementara guru masih berkutat pada tradisi tekstual. Guru sekarang masih banyak memakai produk 80-an, sementara siswanya sudah memakai produk kontemporer. Akibatnya, para siswa berbeda secara radikal dengan para guru, karena banyak terjadi perbedaan di sana-sini.

Perubahan yang terjadi pada siswa meliputi cara berfikir (the ways of thinking), cara belajar (the ways of learning) dan cara bersikap (the ways of behave). Sejak terjadi pergeseran paradigm dalam dunia pendidikan dari yang semula berorientasi pada guru  menjadi berorientasi pada siswa.

Pertumbuhan dan perkembangan era digital ini melahirkan pandangan baru pada semua bidang kehidupan manusia, baik sosial, budaya, ekonomi, politik, dan lain sebagainya. Sehingga menuntut guru sebagai agent of change terhadap siswa mempunyai peran penting agar tidak ada siswa yang terisolasi dalam informasi. Menjadi guru era 80-an berbeda dengan era digital. Karisma guru tidak lagi menjadi prioritas utama, akan tetapi harus dipadukan dengan kemampuan nyata saat ini.

Tantangan guru dalam pembelajaran era digital membutuhkan orientasi baru dalam pendidikan. Pendidikan yang menekankan pada kreativitas, inisiatif, dan inovatif. Di sisi lain masih banyak guru 80-an, sementara siswanya sudah memakai produk digital kontemporer. Akibatnya, sedikit banyak para siswa mempunyai pandangan berbeda dengan guru.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sangat cepat dalam satu dasa warsa terakhir ini. Perkembangan ini dipastikan menyentuh, bahkan melahirkan orientasi baru pada semua bidang kehidupan manusia, baik sosial, budaya, ekonomi, politik, hukum, maupun pendidikan. Telah terjadi pergeseran dari era pengetahuan, ke era informasi dan komunikasi. Transisi dari komunitas berbasis pengetahuan ke komunitas berbasis informasi dan komunikasi membawa perubahan yang dramatis, terutama dalam hal, bagaimana informasi dikonstruksi menjadi pengetahuan yang dapat dikomunikasikan dengan cepat dan secara luas kepada semua warga negara, sehingga tidak ada warga negara yang terisolasi dalam informasi.

Menjadi guru di abad 21 berbeda dengan guru di abad 20-an. Di era digital seperti sekarang ini, eksistensi guru tidak lagi dilihat dari kharismanya semata. Karim dan Saleh Sugiyanto (2006). Lebih dari itu, bagaimana seorang guru mampu berkomunikasi dan beradaptasi mengikuti arah tangan zaman. Guru di era digital dituntut mampu berinovasi dan berkreasi, karena sistem pembelajaran tahun 80-an sudah tidak diterima oleh anak didik zaman sekarang.

Tapscott, (1997) akibat perkembangan teknologi internet dan kemajuan teknologi digital yang telah terakselerasi , informasi, dan pengetahuan menjadi bersifat sementara dan singkat. Pengetahuan yang bersifat sementara membutuhkan pembaharuan secara konstan, perkembangan dan peningkatan kemampuan pribadi. Kemajuan ini mempengaruhi dunia pendidikan secara mendasar, dari cara pandang terhadap pengetahuan, sampai dengan bagaimana pengetahuan itu diajarkan di depan kelas. Hal ini juga tentu berpengaruh terhadap dunia pendidikan guru dan tenaga kependidikan, terutama bagaimana kompetensi guru harus diorientasikan terhadap perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dan masyarakat digital dewasa ini.

Bastian, Aulia Reza. (2002) lebih lanjut, perubahan tempat belajar, yakni transisi dari era analog ke era digital, juga dianggap penting. Di era digital, lingkungan belajar harus diselaraskan dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi, misalnya
internet dan cybernet, yang memungkinkan pemelajar belajar secara mandiri, dinamis dan tidak terikat oleh hanya satu tempat dan satu sumber belajar, bahkan tidak tergantung pada guru pengajarnya saja, tetapi siswa dapat belajar dari banyak guru, berbagai sumber di dunia maya.

Oleh karena itu, semua elemen kompetensi guru yang cenderung memperlakukan siswa hanya berdasarkan pengalaman, kemampuan, pengetahuan dan sumber-sumber belajar yang dimiliki seorang guru, atau singkatnya mengukur potensi dan kemampuan siswa hanya dengan otak seorang guru yang bersangkutan tidak relevan lagi (bandingkan dengan Depdikbud, 2003). Tetapi dalam era digital dinamis ini guru harus menerapkan konsep multy channel learning yang memperlakukan siswa sebagai pemelajar dinamis yang dapat belajar dimana saja, kapan saja, dari siapa saja, dari berbagai sumber di mana saja. Dalam hal ini guru hendaknya bertindak sebagai fasilitator yang menunjukkan kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa, dan membuka kesempatan pada siswa untuk dapat belajar dari berbagai sumber pembelajaran digital di dunia global.

SMK Negeri 2 Blitar merupakan salah satu sekolah kejuruan yang sudah lama ada di Kota Blitar, sehingga tenaga pendidik atau guru yang ada di SMK Negeri 2 Blitar pun sebagian besar merupakan guru senior yang sudah cukup umur yang merupakan produk tahun 80-an. Hal ini tentunya menjadi tantangan sendiri bagi SMK Negeri 2 Blitar untuk menghadapi perkembangan teknologi dan komunikasi agar dapat menciptakan pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan perubahan pada siswa. Tidak dipungkiri bahwa masih banyak guru di SMK Negeri 2 Blitar yang masih menerapkan pembelajaran konvensional, dimana pembelajaran bersifat searah berupa cderamah, masih menuliskan dan menjelaskan materi di papan tulis, siswa disuruh  mencatat materi, dan menggunakan sistem penilaian berbasis teks. Hal ini terkadang membuat siswa jenuh dan motivasi belajarnya menurun, sehingga hasil belajar pun cenderung rendah.

Dengan perubahan siswa dan perkembangan teknologi komunikasi yang semakin maju, tentunya guru-guru di SMK Negeri 2 Blitar perlu menyesuakan diri dengan perubahan tersebut, dan dapat menciptakan pembelajaran yang menarik dan sesuai dengan kebutuhan siswa era digital ini, sehingga hasil belajar siswa pun dapat meningkat. Guru tidak boleh tertinggal dengan kemajuan teknologi, karena akan timpang proses belajar mengajar jika seorang guru tidak dapat menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi saat ini. Untuk itu dalam tulisan ini, penulis akan memaparkan tantangan yang dihadapi dan upaya yang dilakukan oleh guru SMK Negeri 2 Blitar menghadapi pembelajaran era digital.

 

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

  1. Bagaimana pengaruh pembelajaran era digital di SMK Negeri 2 Blitar?
  2. Bagaimana peran guru SMK Negeri 2 Blitar menghadapi pembelajaran era digital?

 

Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari tulisan ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui pengaruh pembelajaran era digital di SMK Negeri 2 Blitar.
  2. Untuk mengetahui peran guru SMK Negeri 2 Blitar menghadapi pembelajaran era digital.

 

Manfaat

Makalah ini diharapkan dapat menjadi bahan bacaan dan referensi bagi guru-guru di lingkungan SMK Negeri 2 Blitar dalam menyikapi perubahan cara belajar siswa era revolusi industri 4.0 atau era digital, sehingga siswa bisa belajar dan menikmati proses pembelajaran yang berkualitas sesuai dengan tuntuan zaman dan perkembangan teknologi saat ini. Sehingga guru sebagai fasilitator dapat menggali dan meningkatkan kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa, dan membuka kesempatan pada siswa untuk dapat belajar dari berbagai sumber pembelajaran digital di dunia global.

 

LANDASAN TEORI

Peran Guru

Guru adalah pendidik dan pengajar pada pendidikan anak usia dini jalur sekolah atau pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Dengan tugas utama mendidik mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih dan mengevaluasi siswa secara professional.

Seorang guru yang professional tidak hanya memiliki kemampuan teknis edukatif tetapi juga harus memiliki kepribadian yang dapat diandalkan sehingga menjadi sosok pantan bagi siswa, keluarga maupun masyarakat, selaras dengan kebijakan pembangunan yang meletakkan pengembangan sumberdaya manusia (SDM), maka kedudukan dan peran guru semakian bermakna.

Sebagai agen pembelajaran, agar seorang guru dapat menjalankan tugasnya secara professional dalam pembelajaran, seorang guru hendaknya memiliki beberapa peranan dalam proses belajar mengajar , diantaranya :

Guru sebagai Fasilitator

Dalam konteks pendidikan, istilah fasilitator semula lebih banyak digunakan untuk kepentingan pendidikan orang dewasa ( andragogi ), khususnya dalam lingkugan pendidikan nonformal. Namun sejalan dengan perubahan makna pengajaran yang lebih menekankan pada aktivitas siswa, belakangan ini di Indonesia istilah fasilitator pun mulai diadopsi dalam lingkungan pendidikan formal di sekolah, yakni berkenaan dengan peran guru pada saat melaksanakan interaksi belajar mengajar. (Wina Senjaya, 2008) menyebutkan bahwa sebagai fasilitator, guru berperan memberikan pelayanan untuk memudahkan siswa dalam kegiatan proses pembelajaran.

Terkait dengan sikap dan perilaku guru sebagai fasilitator, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan guru untuk dapat menjadi seorang fasilitator yang sukses yakni: mendengarkan dan tidak mendominasi, bersikap sabar, menghargai dan rendah hati, mau belajar, bersikap sederajat. bersikap akrab dan melebur, tidak berusaha menceramahi, berwibawa, tidak memihak dan mengkritik, bersikap terbuka, serta bersikap positif.

Guru sebagai Motivator

Sejalan dengan pergeseran makna pembelajaran dari pembelajaran yang berorientasi kepada guru (teacher oriented) ke pembelajaran yang berorientasi kepada siswa (student oriented), maka peran guru dalam proses pembelajaran pun mengalami pergeseran, salah satunya adalah penguatan peran guru sebagai motivator (Akhmad Sudrajat, 2012).

Proses pembelajaran akan berhasil manakala siswa mempunyai motivasi dalam belajar. Oleh sebab itu, guru perlu menumbuhkan motivasi belajar siswa. Untuk memperoleh hasil belajar yang optimal, guru dituntut kreatif membangkitkan motivasi belajar siswa, sehingga terbentuk perilaku belajar siswa yang efektif. Dalam perspektif manajemen maupun psikologi, kita dapat menjumpai beberapa teori tentang motivasi (motivation) dan pemotivasian (motivating) yang diharapkan dapat membantu para manajer (baca: guru) untuk mengembangkan keterampilannya dalam memotivasi para siswanya agar menunjukkan prestasi belajar atau kinerjanya secara unggul.

Guru sebagai Inspirator

Guru Sebagai inspirator, harus memberikan inspirasi bagi kemajuan belajar siswa. Persoalan belajar adalah masalah utama anak didik, guru harus dapat memberikan petunjuk bagaimana cara belajar yang baik.

Guru sebagai Inovator

Guru sebagai Inovator, guru berfungsi melakukan kegiatan kreatif, menemukan strategi, metode, cara-cara, atau konsep-konsep yang baru dalam pengajaran. sebagai inovator harus mampu mencari, menemukan dan melaksanakan berbagai pembaharuan di sekolah. Gagasan baru itu misalnya penggunaan teknologi informasi dalam pembelajaran. Penggunaan teknologi informasi dalam pembelajaran maksudnya menggunakan manfaat internet atau intranet sebagai media pembelajaran.

Pengabdian seorang guru adalah merupakan kontribusi yang sangat berarti dan dapat dirasakan manfaatnya bagi dunia pendidikan khususnya dan pembangunan bangsa dan negara pada umumnya. Namun perlu dimaklumi bahwa pengabdian seorang guru tidaklah cukup dengan modal kemauan saja akan tetapi harus memiliki kompetensi yang tinggi sebagaimana yang diuraikan dalam Undang-udang nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, serta PP nomor 74 tahun 2008, bahwa seorang guru harus memiliki empat kompetensi dasar, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial.

 

Karakter Teknologi Digital

Teknologi secara harfiah berarti ilmu tentang teknik. Ia merupakan aplikasi dari sintesis sains atau natural sciencies dengan teknik. Sains adalah hasil penelitian empirik berupa observasi dan eksperimen yang dirumuskan dengan bantuan akal pikiran. Sedangkan teknologi adalah aplikasi atau cara-cara penerapan sains dalam realitas kehidupan melalui eksperimen dan kegiatan piloting selama bertahun-tahun. Dengan demikian teknologi adalah hasil peneletian terapan. Penelitian model seperti biaya memerlukan ketekunan, waktu dan biaya yang tinggi. Oleh sebab itu yang akan menguasai perkembangan teknologi adalah bangsa-bangsa yang memiliki etos kerja keilmuan yang tinggi serta anggaran yang besar. Itulah sebabnya, negara-negara yang melahirkan dan mengembangkan teknologi adalah negara-negara yang sudah maju.  Amerika, Jepang, Korea,  Finlandia, dan China, misalnya termasuk negara yang melahirkan berbagai teknologi digital yang sangat dinamis, karena bangsa-bangsa tersebut di samping memiliki modal, juga memiliki modal etos kerja dan ketekunan di atas rata-rata bangsa lain.

Teknologi memang buatan manusia, namun ketika teknologi tersebut lahir ia memiliki sifat, karakter, kepribadian, jati diri atau akhlaknya sendiri. Sifat-sifat tersebut pada mulanya dilahirkan dan dilekatkan oleh manusia pada teknologi tersebut. Dengan kata lain, pada teknologi tersebut terdapat sebagian dari hasil akal pikiran manusia. Sebagai hasil dari akal pikiran manusia seharusnya  teknologi  tunduk pada kemauan manusia. Namun dalam realitanya tidak demikian. Teknologi memiliki sifat, karakter, kepribadian, jati diri atau akhlaknya sendiri. Jika seseorang ingin memanfaatkan teknologi tersebut ia harus mengikuti sifat, karakter, kepribadian, jati diri atau akhlaknya sendiri. Tanpa mau mengikuti sifat, karakter, kepribadian, jati diri atau akhlaknya, maka manusia tidak akan dapat memanfaatkan teknologi tersebut. Oleh karena itu orang yang mau memanfaatkan teknologi, harus terlebih dahulu diperkenalkan dan dibiasakan menggunakan teknologi tersebut, melalui kegiatan pelatihan, magang, learning by doing, dan sebagainya.

Teknologi memiliki karakter dan budayanya sendiri. Sebuah cangkul misalnya, adalah teknologi tradisional yang amat sederhana. Namun ketika seseorang akan menggunakannya ia harus mengikuti logikanya, misalnya cara memegangnya, cara mengayunkannya, posisi orang yang menggunakannya, arah yang dikenai sasaran dan sebagainya. Tanpa mau mengikuti logikanya, maka cangkul yang dibuatnya itu akan menjadi “senjata makan tuan”. Ia tidak akan menghasilkan tanah yang gembur, melainkan kaki yang baba belur. Demikian pula teknologi digital, walaupun ia buatan manusia, namun ia memiliki logikanya sendiri. Manusia yang menggunakannya harus mengikuti logikanya itu. Logika teknologi digital adalah: (1)Sistemik. Yakni bahwa ia dirancang dalam sebuah sistem yang canggih, yaitu suatu keadaan di mana antara satu bagian dengan bagian lainnya saling berkaitan dan berurutan. Satu sistem akan tampil dan berfungsi sebagaimana mestinya, apabila satu sistem yang lain yang merupakan patner yang merupakan pre-requisitenya sudah ada. Karena sistem tersebut selalu di up date, maka seseorang yang akan menggunakannya harus terus meng update kemampuan memahami perkembangan sistem tersebut. Sebagai suatu sistem, teknologi digital tak ubahnya seperti anggota tubuh manusia yang antara satu dan lainnya saling berkaitan. Ketika ada bagian anggota badan yang terluka, maka yang merasakannya bukan hanya bagian anggota yang terkena luka itu saja, melainkan sekujur tubuh ikut merasakannya. Oleh karena itu, jika ada salah satu elemen yang rusak, terutama pada elemen yang pokok, maka teknologi digital tersebut tidak akan dapat bekerja, atau akan mati. Jika dalam tubuh manusia, komponen yang paling urgen adalah jantung, maka dalam  teknologi digital adalah chip-nya, jika chipnya dicabut, maka teknologi digital akan berhenti bekerja. Agar seseorang dapat menggunakan teknologi digital secara benar, maka ia harus mempelajari sistemnya, sebagaimana diatur dalam manual books yang dikeluarkan oleh perusahaan atau industri yang mengeluarkan teknologi digital tersebut. (2)Netral. Pada dasarnya teknologi digital atau teknologi apapun bersifat netral. Ia tidak baik atau tidak buruk oleh dirinya sendiri, melainkan amat bergantung pada manusia yang merancang dan menggunakannya. Jika orang yang merancangnya memasukan sistem, program atau menu yang tidak baik, kotor, seperti gambar, video atau film forno, atau tindakan kekerasan, maka teknologi tersebut menjadi kotor, dan orang yang menggunakannya akan terkena pengaruh buruk, misalnya ia terdorong untuk melakukan perbuatan buruk tersebut, seperti melakukan kegiatan pesta seks, pesta minuman keras, tindakan kriminal, dan lain sebagainya. Sebaliknya, jika orang yang merancangnya memasukan sistem, program atau menu yang baik, seperti menu bacaan atau hafalan al-Qur’an, bacaan do’a, taushiyah, kegiatan sosial keagamaan dan gambar-gambar yang membangkitkan spiritualitas, maka orang yang menggunakannya akan terdorong untuk melakukan hal-hal yang baik. Dengan karakter teknologi digital yang demikian, maka penggunaan teknologi digital tergantung pada manusia yang merancang dan menggunakannya. Dalam kaitan ini, maka pemberian wawasan yang benar dan komprehensif tentang teknologi digital, serta landasan moral dan etik yang berbasis pada nilai-nilai agama, budaya, tradisi, dan kearifan lokal, nasional dan internasional perlu dimiliki oleh setiap orang yang menggunakannya. (3)Terbatas. Walaupun teknologi digital tersebut sudah semakin canggih dan telah dapat melayani kebutuhan manusia terutama dalam membangun komunikasi dan melakukan tukar menukar informasi, namun ia tetap saja terbatas. Ia tidak dapat berbuat sendiri, tidak bisa menentukan dirinya sendiri, ia tidak memiliki perasaan, keinginan, dan kehendak atas dirinya sendiri. Karena itu, sehebat apapun kemampuan teknologi digital, ia tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran manusia. Teknologi sehebat apapun tidak akan dimintakan pertanggung jawaban; yang dimintakan tanggung jawab adalah orang yang menggunakannya.

Guru di Era Digital

 Pendidik atau guru di setiap zaman memiliki tantangan berbeda. Perbedaan era, perbedaan zaman, maka berbeda pula tata cara mengatasi persoalan. Era digital telah mengubah cara pandang manusia. Tidak ada seorang pun yang dapat menghindari arus kemajuan teknologi ini. Seiring dengan kemajuan ini, guru harus menghadapi tantangan masyarakat perubahan teknologi. Di era teknologi ini, guru sangat dituntut meningkatkan kompetensinya sebagai pengajar dan pendidik.

Peran guru dalam pembelajaran yang memusatkan pada konstruksi, pencarian dan penemuan; dahulu pendidikan diartikan sebagai sesuatu yang bersifat satu arah, yang menuntut penyampaian informasi oleh seorang ahli dan pemerolehan pengetahuan yang telah disiapkan, oleh siswa. Dalam hal ini, seorang guru dianggap sebagai ahli yang mempunyai jawaban untuk setiap pertanyaan, sehingga ia memiliki otoritas penuh. Di sisi lain, para siswa selalu dianggap sebagai pelajar pasif, penerima apapun yang diajar oleh guru. Bennett (1993), pada era TIK digital ini dibutuhkan sebuah orientasi baru dalam pendidikan yang menekankan pada konstruksi aktif siswa melalui pencarian berbagai macam informasi serta sumber-sumber lainnya yang berguna untuk kehidupan mereka dalam berbagai situasi. Orientasi baru ini memfokuskan pada kegiatan pembelajaran yang menuntut motivasi diri siswa (self-motivated) dan pengaturan diri sendiri (self-regulated). Hal ini diperlukan dalam rangka konstruksi pengetahuan dan pengalaman yang bisa diterapkan dalam konteks-konteks tertentu yang dihadapi siswa. Untuk memperoleh pengetahuan ini dibutuhkan partisipasi aktif dalam perkembangan pribadi melalui pendidikan interaktif dan aplikasinya, bukan semata dengan “menyerap” secara pasif pengetahuan yang telah dirancang oleh orang lain.

Peran guru dalam pembelajaran yang menekankan pada kreativitas dan inisiatif; pendidikan konvensional cenderung menampilkan kemampuan manual individu yang mampu menyelesaikan tugas yang diberikan. Pemelajar yang mengikuti kebiasaan dan jalur-jalur yang ditentukan, menggunakan sumber-sumber yang disediakan oleh guru secara efektif, serta berada pada batas-batas yang telah dirancang, dianggap mencapai hasil terbaik dalam metodologi ini.

Buchori, Mochtar (1995) bagi yang mencari hal-hal baru dengan berbagai pilihan tidak diuntungkan dalam hal ini. Kenyataan ini sering ditemukan dan erat hubungannya dengan lingkungan sosial yang telah struktur secara keras dan kaku. Hal ini tentu saja, tidak sesuai dengan lingkungan global saat ini, yaitu lingkungan dengan perkembangan yang pesat dan cepat, lingkungan dengan tantangan yang penuh dengan hal-hal yang tidak terduga dan melibatkan banyak hal dalam jangkauan yang luas. Apa yang diperlukan dalam konteks ini adalah orang-orang dengan kompetensi tingkat tinggi, yaitu orang kreatif, penuh inisiatif dan intensif untuk memberikan solusi inovatif terhadap tantangan yang semakin kompleks.

Peran guru dalam pembelajaran yang menekankan pada interaksi dan kerjasama; masyarakat yang telah mencapai tingkat spesialisasi yang tinggi dengan beragam profesi, membutuhkan interaksi yang lebih luas serta kerjasama dalam menyelesaikan permasalahan. Sayangnya pembelajaran yang dirancang guru masih cenderung untuk memenuhi kebutuhan dan harapan individu siswa, misalnya melalui interaksi terencana di antara siswa dengan komputer, belum memenuhi tuntutan dalam lingkungan belajar era digital global dewasa ini. Model pembelajaran yang digunakan cenderung belum berhasil menciptakan interaksi yang dinamis, baik kerjasama antar siswa, siswa dengan guru, maupun siswa dengan berbagai sumber pembelajaran. Lim, Cher-Ping and Tay, Lee-Yong (2006) pembelajaran yang bersifat interaktif dan kolaboratif diharapkan mampu memperkaya pengalaman belajar dengan menyediakan kesempatan bagi siswa untuk belajar melalui pemberian masalah yang nyata dengan beragam sudut pandang dari berbagai aspek, dan yang terpenting adalah pengalaman berbagi dan hidup bersama dalam masyarakat.

Ketiga peran baru dalam pembelajaran tersebut dapat dijadikan landasan untuk melakukan kajian terhadap visi, tanggung jawab, sensitivitas sosial, kemampuan logis dan kejujuran guru dalam masyarakat digital global dewasa ini. Berikut akan disarikan beberapa pemikiran ke arah itu, yaitu:

  1. Visi Guru; paradigma dalam pendidikan saat ini telah beralih dari paradigma mengajar menuju paradigma belajar. Ini berarti bahwa pendidikan bukan lagi mengenai bagaimana menyampaikan pengetahuan dan informasi kepada siswa, tetapi tentang bagaimana membantu siswa untuk mencari danmenemukan (search-discovery) informasi sendiri dan kemudian membantu siswa untuk mengkonstruksi dan menciptakan (construction-invention) pengetahuan yang bermanfaat bagi diri mereka. Guru tidak lagi bertanggung jawab atas pengetahuan yang disimpan dalam pikiran para siswa, tetapi bagaimana siswa mampu membangun pengetahuan secara mandiri (Geddis, 1993). Hal ini bukan berarti guru adalah pembantu yang pasif, tetapi aktif dalam proses konstruksi tersebut, misalnya melalui penciptaan lingkungan belajar yang berpegang pada prinsip multy channel learning. Dalam era digital global dewasa ini, hal ini hendaknya menjadi visi yang jelas bagi guru, bagaimana memperlakukan siswa dalam belajar;
  2. Tanggung jawab moral guru; pekerjaan utama guru tentu saja mengajar. Dalam lingkup sosial, guru juga memiliki tanggung jawab dalam membangun konsep diri siswa, misalnya tentang moralitas dan keanekaragaman etnik. Hal ini dapat diberikan melalui persentasi norma-norma sosial dan hal-hal yang dilarang, baik secara langsung melalui aspek-aspek pendidikan yang diajarkan, atau secara tidak langsung melalui contoh-contoh penerapan. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang pesat serta tingginya tingkat keambiguan dalam teknologi memberi peluang terjadinya berbagai masalah, misalnya cara interaksi sosial yang tindakan maupun pada tingkah laku yang menyimpang. Salah satu sebab adalah peningkatan isolasi bagi mereka yang berinteraksi secara berlebihan pada internet dan sebagai konsekuensinya dapat menurunkan interaksi antar individu. Lebih lanjut, kemungkinan konsekuensi negatif mengenai ketertutupan dan pemisahan diri yang diakibatkan oleh akses global, mengakibatkan melemahnya norma-norma sosial. Hal-hal selebihnya harus didiskusikan atau setidaknya disadari yaitu kondisi dalam dunia pendidikan dimana interaksi banyak berpusat pada teknologi informasi dan komunikasi;
  3. Sensitivitas Sosial Guru; dalam komunitas berbasis pengetahuan digital, terjadi penekanan pada nilai-nilai finansial serta nilai-nilai ekonomis pada pengetahuan. Sebagai contoh, di negara maju dimana komunitas digital berkembang sangat pesat, telah disinyalir penurunan sensitivitas kemanusiaan dalam mata kuliah di kampus, terutama pada ilmu-ilmu/ jurusan-jurusan sains yang berat. Hal ini tidak begitu terjadi pada ilmu yang difokuskan pada penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Hal yang tidak boleh dilupakan dalam mengembangkan originalitas dan imajinasi, yakni seseorang harus menanamkan rasa kemanusiaan dan sensitivitas sosial. Penerapan TIK digital dalam dunia pendidikan tidak boleh mengurangi hal ini. Hal ini merupakan tantangan tersendiri bagi guru dalam dunia digital global dewasa ini. Untuk itu, guru perlu menjadi orang yang literat dalam hal-hal digital sehingga mampu memahami serta siap dengan lingkungan berteknologi tinggi yang mengelilingi mereka, serta yang akan menjadi hal yang mereka sentuh langsung dalam dunia kerjanya. Literasi digital guru tidak hanya berarti kemampuan untuk menumpulkan, memilih, memperbaiki dan memproses informasi, tetapi juga untuk menilai dan menentukan kredibilitas informasi. Dalam hal tertentu hasil perbaikan dan pemprosesan dapat berbeda satu sama lainnya tergantung sensitivitas sosial guru tersebut. Oleh sebab itu komunitas digital memerlukan guru yang memang literat, secara digital, dan juga sensitif, secara sosial. Sensitivitas sosial dalam hal ini adalah kemampuan untuk memperoleh pengetahuan budaya, serta sensitivitas untuk bekerja dengan sukses dalam bidang pendidikan yang berubah sangat cepat;
  4. Reorientasi kemampuan logika dan kejujuran guru; guru harus memiliki kemampuan untuk memberikan alasan-alasan secara logis dalam bidang ilmu yang diajarkan, dengan cara membangun keahlian, dan memperbaharuinya sesuai dengan perkembangan terbaru secara berkesinambungan. Sebagai tambahan, guru harus memiliki kemampuan untuk menggunakan contoh-contoh nyata yang berkaitan dengan kehidupan siswa dan menghubungkan dengan mata pelajaran yang diajarkan. Guru harus tanggap untuk tidak membuat siswanya merasa bosan dengan hanya menyampaikan materi pelajaran secara searah seperti yang telah direncanakan. Tetapi guru harus meningkatkan kreativitas tentang bagaimana siswa belajar mengkonstruksi pengetahuan, misalnya bagaimana menciptakan lingkungan belajar yang memungkinkan siswa belajar secara aktif dan mandiri dari berbagai sumber pembelajaran, yang memungkinkan siswa membangun kompetensi mereka secara utuh, dari kompetensi dasar sampai kompetensi tingkat tinggi (Sudiarta, 2007). Di samping itu, di tengah tumpah ruahnya informasi dan sumber belajar digital yang dapat diakses secara cepat dan luas, guru harus mampu menjadi pelopor kejujuran dalam belajar, misalnya jujur dengan menunjukkan sumber bahan ajar digital yang digunakan, jujur bahwa dia belum mengakses informasi digital tertentu yang dibutuhkan, dan sebagainya.

 

PEMBAHASAN

Gambaran Umum Pembelajaran Era Digital di SMK Negeri 2 Blitar

Tantangan guru di era digital adalah guru sampai sekarang masih banyak memakai produk 80-an, sementara siswa sudah memakai produk kontemporer. Akibatnya, para siswa berbeda secara radikal dengan para guru, karena banyak terjadi ketidaknyambungan di sana-sini. Hal ini pun terjadi di SMK Negeri 2 Blitar. Banyak siswa SMK Negeri 2 Blitar yang memiliki karakter belajar yang berbeda dan tidak lagi cocok dengan sistem pendidikan abad 20. Namun pada kenyataannya banyak guru SMK Negeri 2 Blitar yang masih tidak memahami hal ini. Banyak guru yang lambat sekali mengejar laju modernisasi pendidikan. Yang terjadi kemudian adalah siswa sudah mampu menerima informasi secara cepat dari berbagai sumber multimedia, sementara banyak guru acapkali memberikan informasi dengan lambat dan dari sumber-sumber terbatas. Para siswa suka melihat gambar, mendengarkan musik dan melihat vidio terlebih dahulu sebelum melihat teksnya, sementara guru memberikan teks terlebih dahulu. Para siswa suka melakukan kegiatan kebersamaan sekaligus, seperti menyelesaikan tugas sambil mendengarkan musik dari laptop, sementara guru cenderung menghendaki untuk melakukan satu hal saja pada satu waktu.

Era digital yang kini telah menjadi bagian kehidupan keseharian masyarakat, khususnya generasi muda memang akan mengubah pola kehidupan. Termasuk pola belajar dan pola penyebaran informasi. Era kertas pelan tetapi pasti akan tergeser. Ketika kamus digital dapat diperoleh dengan mudah dan murah, misalnya dapat dimasuk ke dalam smartphone, maka kamus tercetak akan terancam.

Siswa hari ini dapat diklasifikasikan sebagai generasi digital asli, yaitu mereka yang lahir dan berkembang di era digital sedangkan para guru mayoritas merupakan generasi digital imigran, yaitu generasi yang lahir sebelum era digital. Namun dalam perkembangannya di usianya saat ini mereka juga ikut serta menikmati era digital (Prensky, 2001). Perbedaan klasifikasi secara sosiologis tersebut mengisyaratkan bahwa  antara guru dan siswa memiliki pengalaman sosial yang berbeda, sebagai pengaruh dari perbedaan beragam fenomena sosial yang menyertai masa hidup dan perkembangannya, sehingga menyebabkan perbedaan cara berfikir, cara belajar dan cara bersikap antara keduanya.

Pembelajaran merupakan suatu usaha sadar dan terencana dalam rangka membelajarkan siswa untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Semua langkah dalam pembelajaran mulai dari perencanaan pembelajaran, proses pembelajaran dan evaluasi pembelajaran diarahkan pada bagaimana agar siswa belajar. Sehingga, dalam hal ini guru sebagai seorang pendidik, fasilitator pembelajaran dan patner belajar bagi siswa, dituntut untuk memahami dengan baik cara berfikir, cara belajar dan cara bersikap siswa dalam rangka memberikan penanganan dan pendampingan yang tepat dalam proses belajarnya.

Menghadapi era digital ini, guru-guru SMK Negeri 2 Blitar dituntut untuk mampu mengintegrasikan beragam teknologi informasi dan komunikasi dalam proses pembelajaran sebagai salah satu bentuk penyesuaian pembelajaran dengan karakteristik siswa. Penyesuaian tersebut meliputi pengembangan media-media pembelajaran elektronik atau berbantuan komputer, pemanfaatan situs media-media sosial untuk aktivitas pembelajaran dan pengembangan strategi-strategi pembelajaran online dan perpaduan antara online dan tatap muka (blended learning).

Tidak berbeda dengan guru dan siswa pada umumnya, siswa SMK Negeri 2 Blitar pun ingin mengakses informasi multimedia hyperlink secara acak, sedangkan guru lebih suka menyediakan informasi secara linear, logis dan lempang. Siswa menyukai interaksi simultan dengan banyak orang, sementara guru menginginkan siswanya bekerja secara independent. Siswa menyukai pelajaran yang relevan, menarik dan dapat langsung digunakan (instan), gurunya ingin mengikuti kurikulum dan memenuhi standarisasi. Fenomena ini seolah menjadi pil pahit yang harus kita telan bersama. Geliat dunia virtual yang dewasa ini lebih digandrungi oleh siswa generasi Z ini tentunya juga menuntut guru SMK Negeri 2 Blitar harus berpikir ulang untuk menata sistem mengajar yang relevan, inovatif dan adaptif.

Tidak dipungkiri bahwa sekolah saat ini bukanlah satu-satunya wadah atau pusat belajar bagi siswa. Hal ini dapat dilihat dimana siswa sekarang selain mengikuti materi secara face to face terhadap guru di dalam kelas, mereka juga memiliki guru yang luar biasa ampuh di ruang virtual, yaitu “Google”. Mesin pencari Google ini mampu memfasilitasi pencarian ilmu pengetahuan dengan sangat cepat dan praktis. Google yang diciptakan oleh Larry Page dan Sergey Brin pada tahun 1995 seolah membalikkan sekat keterbatasan informasi. Para siswa dapat menggali informasi apa saja dari seluruh belahan dunia tanpa harus bercapek-capek. Cukup duduk manis, “klik”, dalam hitungan detik akan muncul apa yang diinginkan.

Apalagi fenomena jejaring sosial seperti facebook dan twitter. Jejaring sosial yang sedang marak digandrungi masyarakat ini juga berpotensi besar menggeser peran guru sebagai seorang pendidik yang salah satu fungsinya adalah menyebarkan informasi dan ilmu pengetahuan. Betapa tidak, melalui dunia virtual, siswa mampu dengan mudah bergaul, berkonsultasi, bertegur dan bersapa ria, dan menggali relasi dari siapa saja lewat layanan chatting yang tersedia.

Oleh karena itu, kondisi riil abad 21 dan juga terjadi di SMK Negeri 2 Blitar ini akan menjadi tantangan atau bahkan ancaman tersendiri bagi guru. Sebab, guru yang datang dari dunia pra-digital perlu berusaha keras menghadapi murid era digital. Kenyataan yang terjadi guru akan menemui kesulitan dalam membangun komunikasi yang efektif dengan siswa. Karena kebiasaan dan cara belajar mereka sering berbeda. Hal inilah yang acapkali membuat kedua belah pihak, murid di satu pihak dan guru di lain pihak, sama-sama frustrasi.

Untuk mengatasi kondisi ini, maka strategi mengatasi tantangan yang dilakukan oleh guru-guru SMK Negeri 2 Blitar  adalah meningkatkan daya kreasi dan inovasi dalam menyiapkan pembelajaran berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Hal ini tentunya tidak dapat memberikan hasil secarainstan, namun perlu proses dalam berubah. Sementara disadari bahwa banyak guru SMK Negeri 2 Blitar yang sudah senior dan akan memasuki masa pensiun. Guru-guru ini yang cenderung tetap menggunakan model pembelajaran lama dan kesulitan untuk menyesuaikan diri dalam pembelajaran era digital. Untuk itu, bagi guru-guru yang belum dapat sepenuhnya beradaptasi dengan pembelajaran era digital, diarahkan untuk menjadi jembatan revolusi perubahan belajar ini. Yakni, dengan cara menjadikan dirinya sebagai motivator, yang menggerakkan anak didik pada sumber belajar yang dapat diakses. Sebagai dinamisator, yakni memantau anak didik agar mengembangkan kreativitas dan imajinasinya. Sebagai evaluator dan justifikator, yaitu dapat menilai dan memberi catatan, tambahan, perbendaharaan, dan sebagainya terhadap temuan siswa.

Dengan strategi ini, guru tidak akan ditinggalkan muridnya. Setidaknya guru masih mampu bertahan dengan membangun potensi dan profesionalitasnya. Harus diakui, di abad informasi dan digital seperti sekarang. Sebagaimana pendapat Bennett, N. (1993) kehidupan akan ditandai lima kecenderungan: (1) adanya kecenderungan penggunaan teknologi tinggi (high technology) khususnya teknologi komunikasi dan informasi; (2) kecenderungan interdependensi (kesaling-tergantungan); (3) kecenderungan munculnya penjajahan baru dalam bidang kebudayaan (new colonization in culture). Artinya, pola pikir (mindset) masyarakat pengguna pendidikan mengalami pergeseran; (4) cenderung untuk saling berintegrasi dalam kehidupan ekonomi dan kecenderungan untuk saling berpecah belah (fragmentasi) dalam bidang politik; (5) di tahun-tahun mendatang sebagai akibatnya akan lahir gaya hidup baru yang mengundang akses-akses tertentu.

 

 

Pengaruh Pembelajaran Era Digital di SMK Negeri 2 Blitar

Suatu perubahan tentunya memiliki pengaruh negatif maupun positif bagi obyek yang terdampak perubahan tersebut. Perubahan pembelajaran yang terjadi saat ini, dimana dikenal sebagai era revolusi industri 4.0, pendidikan dihadapkan pada era digital yang mana model, strategi dan metode yang digunakan oleh seorang guru harus dapat mengintegrasikan TIK, sehingga dapat menciptakan pembelajaran yang menarik dan sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan siswa saat ini. Perubahan belajar dan pembelajaran ini juga terjadi di SMK Negeri 2 Blitar, dimana hampir semua siswa lebih tertarik menggunakan gadget dalam pembelajaran, sementara masih banyak guru yang justru belum mampu memanfaatkan perangkat TIK secara maksimal, dan justru melarang penggunaan gadget untuk siswa dengan berbagai alasan dampak buruk yang ditimbulkan dari penggunaan TIK tersebut.

Berdasarkan alasan tersebut, maka pihak sekolah sering memberikan informasi dan sosialisasi kepada guru SMK Negeri 2 Blitar tentang tuntutan kurikulum nasional yang mengharuskan penggunaan TIK dalam pembelajaran, beserta dampak negatif maupun positif yang ditimbulkan dari penggunaan TIK tersebut, sehingga guru dapat merencanakan pembelajaran berbasis TIK yang berdampak positif bagis siswa, dan mampu meminimalkan pengaruh negatif penggunaan TIK tersebut bagi siswa.

Kekurangan dari perkembangan era digital saat ini adalah terlalu banyak informasi yang masuk sehingga siswa yang masih belum mampu berpikir panjang, sulit memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Efek negatif termasuk informasi yang berlebihan seperti predator internet. Pada masa kini perubahan signifikan yang disebabkan oleh game online terjadi pada anak-anak dan remaja karena terlalu banyak mengahbiskan waktu di depan komputer atau gadget, menyebabkan mereka menjadi kurang produktif dalam melakukan sesuatu dan bermasalah pula pada kesehatan mata serta penyakit yang lainnya belum lagi kerusakan moral.

Pada dasarnya teknologi diciptakan untuk membantu manusia, sehingga tentunya memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Dampak perkembangan era digital sangat besar pada dunia pendidikan.  Bahkan sangat-sangat besar, sehingga akan mengubah secara total pola pembelajaran dan pola pendidikan. Itulah tantangan yang kini harus dipikirkan oleh setiap orang yang merasa sebagai ahli dan pemerhati pendidikan. Pendidikan yang menggunakan era digital sebagai wahana pendidikan.

Bayangkan saja, saat ini siswa sekolah dasar sudah pandai membuka internet, mencari informasi yang dibahas bersama guru dan teman sekelasnya. Informasi itu dibandingkan, dikategorikan dan dianalisis kemudian diambil kesimpulan. Misalnya anak kelas 3 SD sedang membahas “burung merpati”. Mereka mengunduh berbagai informasi tentang burung merpati, jenisnya, ukurannya, makanannya, bagaimana bisa terbang dan sebagainya. Berbagai informasi itu kemudian dibanding-bandingkan, dikategorikan, dianalsisis dan disimpulkan. Hal ini tentunya akan memberikan pengaruh dan manfaat positif yang lebih besar bagi siswa tingkat sekolah menengah atas, yang memiliki pola pikir yang lebih matang dibandingkan siswa sekolah dasar.

Bagi siswa saat ini, termasuk siswa SMK Negeri 2 Blitar, dengan menggunakan teknologi mereka dapat belajar dan bekerja secara kelompok dengan dibimbing oleh guru. Guru adalah bagian sangat penting yang tidak dapat dipisahkan dari sekolah dengan tugas utamanya yaitu mengajar dan mendidik. Menurut Haim Ginott, Mengajar bukanlah profesi mengajar adalah kegemaran. Guru memberikan panduan, berupa pertanyaan pengungkit (probing question) untuk mendorong siswa berpikir dan mencari jawabannya. Peran guru tidak memberi informasi tetapi mendampingi dan mengarahkan bagai siswa mencari informasi.  Ketika siswa harus membandingan dan mengkategorikan informasi, peran guru mendampingi dan mengatakan “apakah harus begitu?”  “apakah tidak ada cara lain?”  “apa tidak boleh begini?” Dan seterusnya, sampai siswa menemukan jawaban dan dia mengatakan “ya saya menemukan jawabannya”.

Secara bertahap, topik yang dipelajari dapat diarahkan untuk memecahkan masalah. Misalnya bagaimana menemukan cara tercepat dalam menghitung rugi laba atau membuat neraca saldo. Bagaimana menemukan rute jalan Malang-Jakarta yang tercepat kalau naik mobil pribadi. Bagaimana mengatur agar sampah di sekitar sekolah dapat diubah menjadi uang dan sebagainya. Intinya memecahkan masalah kehidupan sehari-hari dengan menerapkan pengetahuan pada level sekolah yang di tempuh. Hal-hal yang disampaikan tersebut tentunya merupakan manfaat yang bagus dan positif, jadi selama informasi bernilai benar maka tidak ada salahnya dimanfaatkan dan digunakan dalam pembelajaran.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, dengan mengintegrasikan TIK dalam pembelajaran, guru di lingkungan SMK Negeri 2 Blitar dapat menciptakan pembelajaran yang menarik bagi siswa dengan metode, strategi maupun model pembelajaran yang berorientasi pada siswa guna meningkatkan prestasi belajar siswa. Guru pun sangat terbantu dalam memberikan materi, dimana guru dapat mengarahkan siswa untuk mencari materi dan referensi di internet sebagai sumber belajarnya, dan memberikan penguatan atas informasi yang diperoleh siswa; guru dapat melaksanakan penilaian hasil belajar siswa menggunakan TIK sehingga pengolahan nilai dan pelaporan pun menjadi lebih cepat. Selain itu, guru pun perlu mengawasi dan membatasi penggunaan gadget oleh siswa selama pembelajaran, sehingga siswa dapat perangkat gadget-nya untuk lebih banyak hal posiitf, dan bukan kecanduan game atau sosial media yang dapat mempengaruhi karakter siswa.

 

Peran Guru SMK Negeri 2 Blitar Menghadapi Pembelajaran Era Digital

Kemajuan yang super pesat dan super canggih membuat guru harus selalu berinovasi. Jika tidak, maka zaman akan menggilasnya. Perlu disadari, kemajuan digital di desa tidak seperti di kota. Akan tetapi, tuntutan kemajuan zaman berlaku untuk semua orang dan semua daerah, juga bagi guru SMK Negeri 2 Blitar.

Guru SMK Negeri 2 Blitar perlu menyadari bahwa perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi yang begitu pesat pada saat ini mau tidak mau, setuju atau tidak setuju tentu akan membuka cakrawala pemikiran bahwa di jagad maya terdapat beraneka macam jenis informasi atau sumber belajar yang tidak terbatas jumlahnya. Tentu semua akan setuju jika dikatakan bahwa guru perlu memanfaatkan beraneka ragam informasi yang tersebar di jagad maya tersebut sebagai sumber belajar setelah melalui seleksi yang didasarkan pada kebutuhan pembelajaran, pertimbangan moral, agama dan lain, dan lain-lain. Revolusi digital memang membawa kemudahan untuk masa depan, dengan tetap mempertimbangkan hak asasi dan pertimbangan moral.

Paradigma baru dalam pembangunan pendidikan di Indonesia, misalnya melalui jaringan INHERENT (Indonesia Higher Education Network) oleh DIKTI, dan Jardiknas oleh Depdiknas (Sudiarta, 2007). Hal ini telah menggantikan prinsip ketertutupan informasi yang berada di bawah kuasa tangan orang-orang tertentu. Kreasi pengetahuan oleh beberapa orang kreatif telah pada puncaknya dan harus memberikan jalan pada pengetahuan itu sendiri untuk dibagi oleh orang-orang dalam jaringan, sehingga mereka mampu untuk berbagi ide berdasarkan kreativitas dan imajinasi mereka sendiri.

Dalam lingkungan perubahan ini peran guru seharusnya tidak bersifat parsial pada kantong jaringan ilmu yang berisi ilmu-ilmu yang diproses atau ‘otak super’ yang berfungsi sebagai sumber ilmu pengetahuan; tetapi lebih pada pembaharu pengetahuan yang menyediakan navigasi atau pengarah pada sumber-sumber pengetahuan yang berguna.

Guru SMK Negeri 2 Blitar, dalam wadah Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP tingkat sekolah, selalu berbagi informasi tetnang pemanfaatan TIK dalam pembelajaran, dan selalu mengikuti perkembangan yang ada. Dalam komunitas MGMP ini, guru SMK Negeri 2 Blitar saat ini tidak mengajarkan pengetahuan secara terpisah, tetapi mengajarkan metode penemuan dimana dan dengan cara seperti apa informasi dan sumber-sumber dapat diperoleh, serta mengajarkan cara-cara memproses pengetahuan dan mengaplikasikannya untuk memecahkan permasalahan yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan materi mata pelajarannya masing-masing. Guru di SMK Negeri 2 Blitar ditekankan untuk dapat menjadi fasilitator dan motiator bagi siswa, dengan menjadi konsultan belajar siswa. Sebagai konsultan belajar, guru memegang peranan yang sangat penting untuk mendiagnosa berbagai masalah yang dihadapi siswa, serta menyediakan metode-metode yang membantu aktivitas belajar. Untuk peran ini guru perlu pengetahuan dan keterampilan untuk mencocokkan, menemukan, mengembangkan dan mengaplikasikan berbagai metodologi pembelajaran. Secara khusus, dalam menggunakan berbagai sumber pembelajaran digital, guru perlu menjadi literat dalam dunia digital, memiliki kemampuan untuk mencari, mengevaluasi, memperbaiki, memproses dan menggunakan informasi digital. Untuk dapat memiliki kemampuan-kemampuan tersebut, maka pihak sekolah secara rutin melaksanakan sosialisasi bagi guru-guru SMK Negeri 2 Blitar terkait perubahan kurikulum nasional yang menuntut pengintegrasian TIK dalam pembelajaran, memberikan dan mendorong guru-guru untuk mengikuti pelatihan, workshop maupun bimbingan teknis tentang pengembangan media pembelajaran dan kurikulum berbasis TIK dengan mendatangkan darasumber yang kompeten dan ahli dalam bidangnya atau pun memberangkatkan guru-guru pada kegiatan diklat ataupun workshop yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga lain.

Guru-guru SMK Negeri 2 Blitar sudah mulai  menerapkan pembelajaran menggunakan kelas maya, untuk mengatasi keterbatasan waktu dan kesempatan guru di dalam kelas. Kelas maya ini menggunakan platform-platform yang tersedia secara luas seperti Google Suite, Edmodo, Kelas, dan Moodle. Melalui komunitas MGMP guru-guru SMK Negeri 2 Blitar selalu belajar memanfaatkan platform yang ada sebagai bentuk dan perannya menjadi pendidik di era digital dalam menciptakan pembelajaran yang menarik bagi siswa. Kegiatan penilaian hasil belajar siswa oleh sebagian besar guru, telah menerapkan penilaian berbasis online, sementara penilaian hasil belajar akhir semester sepenuhnya dilakukan menggunakan ujian berbasis komputer.

Secara umum peran guru dalam pembelajaran era digital di SMK Negeri 2 Blitar adalah sebagai berikut:

  1. Guru sebagai sumber belajar; sebagai sumber belajar guru dituntut untuk mampu menguasai materi pembelajaran, dan mampu memberikan contoh keterkaitan materi yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga ketika siswa bertanya, dengansigap dan cepat tanggap, guru akan dapat langsung menjawabnya dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh siswa.
  2. Guru sebagai fasilitator; peran guru dalam memberikan pelayanan kepada siswa untuk dapat memudahkan siswa menerima materi pelajaran. Sehingga pembelajaran menjadi efektif dan efisien. Salah satu bentuk peran guru sebagi fasilitator di SMK Negeri 2 Blitar adalah, guru menerapkan model pembelajaran kooperatif yang mengutamakan peran serta siswa selama pembelajaran, atau dapat dikatakan menerapkan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student center)
  3. Guru sebagai pengelola; dalam proses pembelajaran, guru berperan untuk memegang kendali penuh atas iklim dalam suasana pembelajaran. Diibaratkan seperti seorang nahkoda yang memegang setir kemudi kapal, yang membawa jalannya kapal ke jalan yang aman dan nyaman.Guru SMK Negeri 2 Blitar dituntut untuk dapat menciptakan suasana kelas yang nyaman dan kondusif. Sehingga siswa dapat menerima pembelajaran dengan nyaman.
  4. Guru sebagai demonstrator; berperan sebagai demonstrator maksudnya di sini bukanlah turun ke jalan untuk berdemo. Namun yang dimaksudkan disini adalah guru itu sebagai sosok yang berperan untuk menunjukkan sikap-sikap yang akan menginspirasi siswa untuk melakukan hal yang sama, bahkan lebih baik. Peran guru ini yang sering dilakukan di SMK Negeri 2 Blitar adalah, dalam menyampaikan materi agar siswa dapat memahami dengan jelas, maka guru mendemonstrasikan materi yang dibahas secara langsung menggunakan alat bantu sesuai materi. Selain itu dalam kehidupan sehari-hari, guru sering memberikan contoh nyata kepada siswa tentang bagaimana belajar, dengan mengajak siswa untuk membahas suatu mansalah dan bersama-sama menemukan penyelesaiannya, memberikan contoh kepada siswa bagaimana menjadi wirausaha sesuai dengan tujuan sekolah kejuruan, dengan mengajarkan dan membimbing siswa untuk berwirausaha secara nyata, misalnya berjualan di kantin sekolah dengan memproduksi sendiri barang yang akan dijual.
  5. Guru sebagai pembimbing; perannya sebagai seorang pembimbing, guru diminta untuk dapat mengarahkan siswa untuk menjadi seperti yang diinginkannya. Namun tentunya,haruslah guru membimbing dan mengarahkan untuk dapat mencapai cita-cita dan impian siswa tersebut. Sebagai pembimbing, tidak harus menjadi wali kelas, namun guru SMK Negeri 2 Blitar berusaha selalu dekat dengan siswa dan menjadi teman maupun orang tua mereka selama di sekolah maupun di luar sekolah. Dengan tetap menjalin komunikasi yang baik dengan siswa secara lisan maupun memanfaatkan media sosial.
  6. Guru sebagai motivator; proses pembelajaran akan berhasil jika siswa memiliki motivasi di dalam dirinya. Oleh karena itu, guru juga berperan penting dalam menumbuhkan motivasi dan semangat dalam diri siswa untuk belajar. Di SMK Negeri 2 Blitar, yang sering dilakukan oleh guru sebagai seorang motivator adalah selalu memberikan motivasi kepada siswa pada awal pembelajaran maupun pada akhir pembelajaran, yang dituangkan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dikembangkan oleh guru.
  7. Guru sebagai elevator; setelah melakukan proses pembelajaran, guru haruslah mengevaluasi semua hasil yang telah dilakukan selama proses belajar mengajar dilaksanakan. Sehingga dari hasil evaluasi tersebut, guru dapat mengetahui apa yang menjadi kekurangan dalam pembelajarannya, dan berusaha memperbaiki atau pun meningkatkan kualitas pembelajaran yang ada, sehingga prestasi belajar siswa pun dapat meningkat, yang tentunya juga akan meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan SMK Negeri 2 Blitar.

 

 

 

 

Bentuk konkrit dari peran guru dalam pembelajaran era digital yang dilakukan di SMK Negeri 2 Blitar adalah sekolah  menyediakan fasilitas jaringan internet yang stabil, sehingga siswa dan guru dapat memanfaatkan jaringan internet sekolah dalam proses belajar mengajar di lingkungan sekolah, baik di dalam ruangan kelas maupun di luar kelas. Fasilitas tersebut dalam bentuk pemasangan titik-titik hotspot di setiap ruang kelas dan area tertentu di lingkungan SMK Negeri 2 Blitar, sehingga siswa dapat mengakses jaringan internet dengan stabil, karena setiap titik hot spot memiliki pembagian jumlah pemakai yang sama dengan kecepatan yang stabil, sehingga siswa tidak berebut konektivitas dalam menggunakan jaringan internet. Selain itu bagi siswa yang tidak memiliki perangkat gadget dalam pelaksanaan pembelajaran yang menuntut penggunaan laptop atau smartphone atau saat melaksanakan ujian, maka sekolah menyediakan peminjaman tablet bagi siswa yang membutuhkan. Hal ini tentunya juga mengatasi perbedaan kemampuan dan latar belakang ekonomi dan sosial siswa dalam pembelajaran era digital yang berbasis komputer.

 

 

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Menghadapi perkembangan teknologi dan tuntutan perubahan karakter belajar siswa di era revolusi industri 4.0, seorang guru hendaknya melakukan paling tidak 3 (tiga) pembelajaran, yaitu: (a) pembelajaran yang memusatkan pada konstruksi pencarian dan penemuan, (b) pembelajaran yang menekankan pada kreativitas dan inisiatif, dan (c) pembelajaran yang menekankan pada interaksi dan kerjasama.

Peran guru dalam pembelajaran era digital ada tujuh yakni: (a) guru sebagai sumber belajar; peran guru sebagai sumber belajar berkaitan dengan kemampuan guru dalam menguasai materi pelajaran. (b) guru sebagai fasilitator; peran guru sebagai fasilitator dalam memberikan pelayanan kepada siswa untuk dapat memudahkan siswa menerima materi pelajaran. (c) guru sebagai pengelola; dalam proses pembelajaran, guru berperan untuk memegang kendali penuh atas iklim dalam suasana pembelajaran; (d) guru sebagai demonstrator; berperan sebagai demonstrator maksudnya disini bukanlah turun ke jalan untuk berdemo. Guru itu sebagai sosok yang berperan untuk menunjukkan sikap-sikap yang akan menginspirasi siswa untuk melakukan hal yang sama, bahkan lebih baik; (e) guru sebagai pembimbing; perannya sebagai seorang pembimbing, guru diminta untuk dapat mengarahkan kepada siswa untuk menjadi seperti yang diinginkannya; (f) guru sebagai motivator; proses pembelajaran akan berhasil jika siswa memiliki motivasi didalam dirinya; (g) guru sebagai elevator; guru haruslah mengevaluasi semua hasil yang telah dilakukan selama proses pembelajaran.

Keberadaan teknologi digital sebagian dapat menggantikan atau membantu peran guru terutama pada aspek pengajaran yang bertumpu pada transfer of knowledge and tekhnology and skill, namun tidak dapat menggantikan peran guru sebagai pendidik, yang bertugas membentuk karakter, mental, kepribadian, sikap dan tabiat melalui penanaman nilai-nilai luhur, yang berbasis pada agama dan  nilai-nilai budaya luhur yang dilakukan dengan cinta kasih, melalui keteladanan, bimbingan, latihan, pembiasaan, dan sebagainya. Era digital dibuat tentunya untuk sebuah tujuan, tujuan baik tentunya. Mempermudah pekerjaan manusia adalah tujuan utamanya. Tetapi suatu barang tidak mungkin ada kelebihannya saja pasti ada sesuatu dampak negative dan positifnya.

 

Saran

Pendidikan sejatinya adalah tugas orang tua terhadap anak-anaknya dan guru sejatinya adalah patner bagi orang tua untuk mendidik anak-anak mereka.  Belajar secara formal di sekolah dengan didampingi oleh guru dan warga sekolah lainnya bukan berarti meniadakan peran orang tua untuk mendidik anak-anaknya. Oleh karena itu, antara pendidik dan orang tua perlu menjalin suatu kolaborasi apik berupa saling berbagi peran dan bertukar saran dan informasi tentang kondisi dan perkembangan peserta didik dalam rangka mensukseskan pencapaian tujuan pendidikan sebagaimana diharapkan.

Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dewasa ini merupakan suatu peluang besar yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan  kolaborasi apik antara guru dan orang tua. Beragam jejaring sosial dapat dimanfaatkan untuk membangun sistem informasi terpadu sederhana antara guru dan orang tua dalam rangka memudahkan orang tua untuk memantau proses belajar anak dan memudahkan guru untuk mendapatkan informasi atau masukan yang mendukung proses belajar.

Kolaborasi apik berbasis TIK antara guru dan orang tua sebagaimana tersebut di atas merupakan sebuah pilihan utama dalam rangka mengambil manfaat maksimal dari perkembangan TIK untuk mengoptimalkan usaha pencapaian pembelajaran bagi peserta didik, baik akademik maupun karakter.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abuddin Nata. Guru Profesional di Era Digital, (Online), (http://abuddin.lec.uinjkt.ac.id/articles/guru-profesional-di-era-digital) diakses tanggal 10 Februari 2019.

Hilda Agustini Nasution. 2018. Peran Guru Dalam Pembelajaran Era Digital, (online), (https://www.scribd.com/document/381475754/Peran-Guru-Dalam-Pembelajaran-Era-Digital-Ada-Tujuh-Yakni) diakses tanggal 10 Februari 2019.

Amir. 2018. Tantangan Guru Era Digital, (online), (https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/07/23/89760/tantangan-guru-era-digital) diakses tanggal 11 Februari 2019.

Andre Rino Prasetyo. 2014. Makalah Tantangan Pada Era Digital, (online), (http://blog.ub.ac.id/andrepraset/2014/12/02/makalah-tantangan-pada-era-digital/) diakses tanggal 11 Februari 2019).

Muhammad Ridha. 2018. Menjadi Guru di Era Digital, (online), (https://geotimes.co.id/opini/menjadi-guru-di-era-digital-2/) diakses tanggal 11 Februari 2019.

Wartomo. 2016. Prosiding Temu Ilmiah Nasional Guru VIII “ Peran Guru Dalam Pembelajaran Era Digital”. UPBJJ-UT Yogyakarta.

 

 

 

Pembuatan e-learning dan ulangan harian berbasis komputer oleh guru matematika

Pemanfaatan gagdet oleh siswa dalam melaksanakan ulangan harian

 

 

 

Halaman Utama Portal E-Learning Multimedia SMK Negeri 2 Blitar

Pelaksanaan Ujian Online Melalui Smartphone Siswa PKL

Pengelolaan Ujian Online oleh Guru

 

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR