| Sebagai Guru Akankah Aku .. |
|
|
|
|
Dra. Chikmatul Bariyah Berbicara tentang keberhasilan, setiap orang pasti pernah merasakan dan masing-masingnya tidak sama bentuk, waktu dan ukurannya. Dalam tuntutan profesi dan tanggung jawab sebagai guru, keberhasilan harus selalu kita pertanyakan kepada diri sendiri setiap waktu. Apalagi jika dikaitkan dengan fenomena perubahan kultur dan sosial ekonomi sekarang ini, akankah aku melakukan perubahan. …. Di SMK memang membutuhkan Guru Plus yang bisa memberikan wacana dan mengantarkan siswanya untuk bisa menghadapi dan mampu mengambil keputusan dalam menghadapi tantangan hidup dalam masyarakat. Bapak/Ibu guru SMK Negeri Blitar untuk menjadi “ Bagaimana menjadi Guru Plus ?“, tidak perlu pergi jauh dan tidak perlu mengeluarkan dana, karena SMK Negeri 2 Blitar mempunyai GURU untuk menjadi Guru Plus. Beliau adalah Ibu Ismoyowati dan Ibu Wahyu Krisna Susanti. Dua pribadi yang mempunyai mutu manikam yang berbeda namun keduanya sama-sama mempunyai nilai keberhasilan. Kita perlu berguru pada beliau bagaimana caranya atau kiat-kiatnya untuk membimbing siswa hingga bisa mencapai prestasi terbaik di tingkat Jawa Timur maupun nasional, bagaimana pula kiprah beliau bisa dikenal ditingkat Jawa Timur dan Nasional, dan bagaimana beliau mengatar siswanya untuk mampu menghadapi permasalahan di masyarakat setelah lulus. Yang jelas Beliau berdua mempunyai cara untuk menggosok batu untuk menjadi mutumanikan yang indah kilaunya. Sekarang kita sebagai guru SMK mampukah dan maukah kita belajar dari Beliau untuk memunculkan mutu manikam yang kita miliki. Satu hal yang dapat saya ambil dari Ibu Wahyu Krisna “ seseorang untuk maju diperlukan (niat) keberanian (percaya diri) dan yakin bahwa nanti pasti ada jalan”, dan satu hal dari Ibu Ismoyowati beliau menasehati saya “ kalau ingin berhasil jangan pernah kamu berhenti belajar, jangan pernah kamu malu bertanya kalau kamu tak bisa, jangan takut untuk mencoba dan ambil peluang yang ada dihadapanmu” . Masih banyak lagi hal-hal lain yang bisa saya ambil dari beliau berdua. Dan bagaimanakah dengan aku sendiri sebagai guru…….., akankah aku…… Sebagai ukuran keberhasilan seseorang (utamanya guru) tidak harus ditandai dengan besarnya materi atau kedudukan yang diperoleh namun seberapa banyakkah usaha dan ilmu yang kita berikan memberikan manfaat bagi keberhasilan kehidupan orang lain (siswa). Itu semua dimulai dari bagaimana seorang guru menjalankan profesinya. Sudahkah ilmu yang kita berikan sesuai dengan yang dibutuhkan siswa…. sudahkah cara kita memberikan sesuai dengan kebutuhan siswa,.. sudahkah langkah kita mengantarkan siswa untuk belajar sesuai dengan citra rasa mereka… mulailah kita menyadari bahwa profesi guru untuk kepentingan siswa bukan untuk profesi kepentingan guru. Yakinlah dengan mengutamakan kebutuhan siswa , mengenali kebutuhan siswa, mengetahui bagaimana memperlakukannya,profesi seorang guru akan terbangun dengan sendirinya. Sosiologi mengatakan profesi guru di Indonesia terbentuk dari didikan Belanda yang masih menggunakan istilah” Guru itu digugu dan ditiru “ yang ini menurut saya menunjukan bahwa seorang guru, tidak boleh berbuat salah. Perlu diketahui pemahaman tersebutlah yang menyebatkan bangsa Indonesia terbelenggu dan sulit untuk mengembangkan diri, selalu tertinggal, sebab hal itulah yang diinginkan Belanda terhadap bangsa Indonesia. Hal ini dapat dilihat masih banyak guru yang tidak menyadari akan pengakuan yang menyesatkan ini, karena akan masih ada guru yang beranggapan dirinya lebih pintar dari siswanya, masih banyak guru yang memaksakan ilmunya untuk diserap siswanya, masih banyak guru yang tidak mengetahui kemauan siswanya. Yang lebih sialnya lagi sisiswa juga dibentuk oleh Belanda sebagai siswa yang dibatasi kesempatan berbicara dan mengeluarkan pendapatnya. Hal ini terlihat dari system klasikal konvesional yang selama ini berlangsung (siswa duduk manis di bangku, mulut terlipat manis, mendengarkan guru bicara ) dengan ketegangan yang tanpa disadari terbentuk, dan akhirnya membentuk mental block Lengkaplah sudah replika pembelajaran bentukan Belanda yang sampai sekarang masih digunakan dan dipakai para guru. Istilah dan pemahaman yang telah terbentu itu harus kita (guru dan siswa ) hilangkan, dan harus dirubah karena kita ada dijaman Indonesia bersaing. Akankah aku…. Sedikit wacana dari berjuta wacana yang bisa dipakai untuk menggosok batu menjadi guru professional bak mutumanikam yang berkilau…. Adalah ketika menjalankan peran sebagai guru, berangkatlah dari hati yang penuh pandangan kasih sayang ingin mengantarkan siswa untuk belajar menghadapi permasalahan hidup dan memilih jalan keluarnya. Pemahaman apa yang diperlukan ….? 1. Siswa itu sangat ingin belajar Pada dasarnya semua orang itu ingin mengetahui, ingin melihat, ingin merasakan ,ingin mendengarkan dan hakekatnya ingin belajar. Jika bagi seseorang sesuatu itu merupakan hal yang baru, maka dia perlu untuk belajar untuk mengenalnya. Siswa yang dikategorikan sebagai manusia yang sedang tumbuh pasti memerlukan belajar untuk mengenal, dan itu adalah naluri untuk bisa dan dewasa. Karena siswa sangat ingin belajar, kita beri dia kesempatan jangan didekte, kita antarkan mereka untuk belajar jangan dibiarkan belajar tanpa dampingan, berikan peluang untuk memilih, jangan memaksakan atau mematikan keinginan siswa. Karena siswa sangat berpotensi, kita bantu menggali potensinya dan kita bantu menunjukkan potensinya, jangan dimatikan. Karena siswa sangat berkreativitas, kita beri kesempatan, bimbingan dan sarana untuk mewujudkannya, jangan dikecilkan. 2. Ilmu pengetahuan itu luar biasa jika benar-benar memahami hakekat satu ilmu pengetahuan, kita akan mengetahui bahwa ilmu pengetahuan itu sangat luar biasa. Ini merupakan daya pikat yang sangat dahsyat bagi seseorang untuk mau belajar. Ini merupakan kekuatan yang luar biasa untuk membuat seseorang menjadi paham dan menjadi sangat luar biasa. 3 Mencintai profesi guru Dengan segenap jiwa raga dan tanggung jawab bereksistensi sebagai guru, setiap hembusan nafas kita mewarnai profesi kita sebagai guru, selalu kita rawat dan pelihara profesi kita sebagai guru, dan mampu serta berani menunjukan profesi kita sebagai guru dalam waktu dan tempat yang diperlukan. Sebagai seorang guru dengan ilmu yang dimiliki yang ditunjang dengan profesi yang disandangnya, mampukah mengkolaborasi ketiganya menjadi sajian yang menarik dan memuaskan untuk dinikmati siswa….sudahkah guru menjembatani antara siswa yang ingin belajar dengan ilmu pengetahuan yang sangat menarik untuk dipelajari…?sudahkah guru menjadi fasilitator bagi siswa untuk menunjukan potensi dirinya yang luar biasa ….?dengan catatan dukungan dari system managemen amat diperlukan dalam hal ini demi suksesnya peran seorang guru. Untuk mengukur tingkat keberhasilan professional seorang guru jangan dilihat dari sudut pandang diri atau pribadi guru, namun dari sudut pandang tingkat keberhasilan siswanya untuk menunjukan potensinya, menunjukan prestasinya, menunjukan kreativitasnya. Yang jelas sejauh mana usaha yang telah dilakukan guru untuk siswanya….akankah aku … |

















